Izinkanlah Aku Kembali


Dering nasyid Lukisan Alamnya Hijjaz berbunyi dari HP ku yang menandakan ada SMS yang masuk. Sedikit terkaget aku bangun. Sambil kulirik jam meja di samping tempat tidurku. Jam 00:05:20 WIB, sambil kuraih HP ku dan dengan sedikit kesal aku bergumam dalam hati, ’’Siapa seh SMS jam segini, udah tau orang sedang enak-enak tidur juga…..’’

Langsung saja kubuka SMS yang masuk barusan, ternyata dari teman dekatku waktu kuliah dulu. ’’Duuaaarr, deeeerr, surpriseeee…… , Assalamu`alaikum… Selamat Hari Lahir… Moga selalu diberi Rahmat, Hidayah serta selalu dalam lindungan-Nya, di usia ke-24 ini jadikan tahun ini lebih baik dari sebelumnya untuk bekal hari akhir nanti… AMIN…’’
Masya Allah… aku baru ingat, sekarang tanggal 20 Agustus, hari lahirku… Subhanallah.. sahabatku itu benar-benar membuatku terharu.. aku saja tidak ingat kalau hari ini hari lahirku.
Yah, sudah 24 tahun aku hidup di dunia ini. Tiba-tiba tersadar sudah setua ini, apa saja yang telah kupersiapkan untuk bekal di hari akhir nanti. Selama ini ibadah yang kulakukan sekedar melunturkan kewajiban saja. Berdoa sekenanya saja. Aktivitas rutinku di tempat kerja telah membuat hatiku hampa dan gersang. Ya Allah… Apa yang terjadi padaku? Jangan kau cabut Hidayah-Mu dari hatiku ya Allah… Tiba-tiba aku merasa rindu untuk kembali dekat dengan-Mu, aku merasa telah jauh dari-Mu ya Allah. Tiba-tiba aku merasa rindu untuk berdakwah kembali seperti dimasa kuliah dulu.
Aku dulu adalah seorang aktivis dakwah. Setiap ada pengajian-pengajian pasti takkan terlewatkan. Bahkan kami pun membentuk kelompok-kelompok pengajian kecil. Singkat kata, orang-orang sering memanggilku dan teman-temanku seorang aktivis. Dan akupun bangga dengan panggilan dan julukan itu. Rasanya semangat dan ghirah untuk berjihad dan berda`wah begitu menggelora pada saat itu.
Saat-saat indah itu mulai berubah seiring berjalannya waktu. Pada tahun 2003, alhamdulillah aku berhasil menyelesaikan kuliahku. Tentu saja aku sangat gembira dan memang saat inilah yang kutunggu-tunggu yaitu dapat mempersembahkan yang terbaik bagi orang tuaku. Sebagai orang tua yang sangat menginginkan kebahagiaan anaknya, orang tuaku sangat berharap aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus dari kuliah.
Berpuluh-puluh berkas surat lamaran aku masukkan ke berbagai instansi pemerintah dan swasta, tapi belum ada satu pun lamaranku diterima. Salah satu kendalanya yang telah menjadi rahasia umum adalah penggunaan jilbab di tempat kerja. Tapi alhamdulillah aku dan rekan-rekan tetap istiqomah dengan jilbab kami.
Aku yakin sekali Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berusaha di jalan-Ny, dan aku juga meyakini bahwa rizqi Allah SWT itu sangat luas. Pasti ada hikmahnya fikirku.
Setahun lebih berada di kotaku tanpa mendapatkan pekerjaan tetap. Ternyata takdir Allah SWT berkata lain. Suatu hari aku mendapatkan panggilan tes untuk wawancara dari salah satu perusahaan besar di ibu kota. Hari itu juga aku langsung memesan tiket penerbangan pertama untuk berangkat ke Jakarta keesokan harinya. Untung saja, aku memiliki saudara yang tinggal di Jakarta. Untuk sementara aku bisa tinggal di sana. Tes demi tes aku lalui dan akhirnya aku diterima bekerja di sana. Rasa gembira pun tak terbendung. Sambil mengucapkan syukur tak henti-hentinya kepada Allah SWT. Babak baru akan segera dimulai dalam hidupku. Aku benar-benar berjanji dalam hati untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Allah SWT berikan padaku dan juga berjanji untuk memperbarui niat bekerja juga untuk beribadah kepada-Nya.
Hari demi hari kulalui dalam pekerjaan baruku. Aku menyukai pekerjaanku. Tak terasa sudah 8 bulan aku meninggalkan kampung halaman untuk bekerja. Dari hari ke hari rutinitas yang ada dalam pekerjaan memang kadang kala membosankan. Tak tahu kenapa kejenuhan juga mempengaruhi kuantitas dan kualitas ibadahku. Aku yang dulu tak pernah satu malampun melewatkan untuk bermunajat kepada Tuhanku, sekarang perlahan-lahan mulai terlewatkan, entah memang karena ketiduran ataupun malas yang hadir pada saat itu. Puasa sunnah Senin-Kamis juga tak serajin dulu lagi. Shalat Dhuhaku telah benar-benar kutinggalkan.
Sebenarnya aku merasakan gersang dan hampa jauh dari Rabb-ku tetapi apa daya kebosanan lebih kuat menerpaku. Bukannya aku tak berusaha untuk kembali. Aku selalu berusaha dan berusaha, tapi aku masih belum mampu. Aku sungguh tak mengerti.. Aku sangat menderita dengan keadaan ini.
Ya Rabb, jangan kau cabut hidayah-Mu dari hati hamba. Jangan berikan kesesatan setelah Engkau beri petunjuk. Hari ini aku seperti tersadar kembali. Tak terasa air mataku menetes satu per satu. Sungguh aku ingin kembali… Aku tahu pintu taubatmu selalu terbuka. Ampuni aku atas kesalahan-kesalahan yang kulakukan. Ya Rabb, aku rindu untuk berkhalwat dan bermunajat kepada-Mu.
Segera aku bangkit dari tempat tidurku dan bergegas berwudhu untuk segera melepaskan rindu pada Rabb yang telah menciptakanku dan melimpahkan rizkinya padaku dan keluargaku.
Lamat-lamat aku terngiang sebuah Nasyid yang didendangkan oleh pemunsyid dari Bandung.

’’Telah berlalu waktu, hari-hari tiada arti, tiada tujuan pasti, kan kemana diri ini
Engkau selalu menanti, setiap rindu hati, betapapun debu di diri,
dimaafMu tak berarti..
Izinkanlah aku kembali, bersujud dan berdoa lagi. Lalu teguhkanlah aku di sini..
Didekap cinta dan maaf-Mu..
Biarkanlah ku menjadi bumi, tempat menetes air mata suci adalah cahaya-Mu tak bertepi,
Bagi insan yang tertambat hati adalah surga-Mu terbuka selalu,
Bagi jiwa yang tetap merindu..’’

Jakarta, Agustus 2005 by Me
(Sebuah perenungan yang dalam untukku)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Esia Suka-Suka

    esiasukasuka
  • Hape Hidayah Plus & Syiar

    hape hidayah